Rabu, 12 Januari 2011

Ritual Tahlilan Menurut Kitab NU


Tahlilan yang dimaksudkan di sini bukanlah tahlilan menurut tinjauan Bahasa Arab. Dalam Bahasa Arab, makna tahlilan adalah mengucapkan laa ilaaha illallaah. Yang dimaksud dengan ritual tahlilan di sini adalah peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, 100 atau 1000
Berikut ini kutipan dari kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin, suatu buku yang terkenal dalam kalangan NU untuk belajar fikih syafi’i pada level menengah atau lanjutan.
ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه،
“Makruh hukumnya keluarga dari yang meninggal dunia duduk untuk menerima orang yang hendak menyampaikan belasungkawa. Demikian pula makruh hukumnya keluarga mayit membuat makanan lalu manusia berkumpul untuk menikmatinya.
لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة،
Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jarir bin Abdillah al Bajali-seorang sahabat Nabi-, “Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.
ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل.
Dianjurkan bagi para tetangga-meski bukan mahram dengan jenazah, kawan dari keluarga mayit-meski bukan berstatus sebagai tetangga-dan kerabat jauh dari mayit-meski mereka berdomisili di lain daerah-untuk membuatkan makanan yang mencukupi bagi keluarga mayit selama sehari semalam semenjak meninggalnya mayit. Hendaknya keluarga mayit agak dipaksa untuk mau menikmati makanan yang telah dibuatkan untuk mereka.
ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.
Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan
وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام وجواب منهم لذلك.
Aku- yaitu penulis kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin- telah membaca sebuah pertanyaan yang diajukan kepada para mufti di Mekkah mengenai makanan yang dibuat oleh keluarga mayit dan jawaban mereka untuk pertanyaan tersebut.
(وصورتهما).
Berikut ini teks pertanyaan dan jawabannya.
ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة.
Pertanyaan, “Apa yang dikatakan oleh para mufti yang mulia di tanah haram –moga ilmu mereka manfaat untuk banyak orang sepanjang zaman– tentang tradisi yang ada di suatu daerah. Tradisi ini hanya dilakukan oleh beberapa orang di daerah tersebut. Tradisi tersebut adalah jika ada seorang yang meninggal dunia lantas datanglah kawan-kawan mayit dan tetangganya untuk menyampaikan belasungkawa maka para kawan mayit dan tetangga ini menunggu-nunggu adanya makanan yang disuguhkan. Karena sangat malu maka keluarga mayit sangat memaksakan diri untuk menyiapkan beragam jenis makanan lalu menyuguhkannya kepada para tamu meski dalam kondisi yang sangat kerepotan.
فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟ أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور.
Seandainya penguasa di daerah tersebut –karena belas kasihan dengan rakyat dan sayang dengan keluarga mayit– melarang keras perbuatan di atas agar rakyatnya kembali berpegang teguh dengan sunah sebaik-baik makhluk yang pernah bersabda, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far”.  Apakah penguasa tersebut akan mendapatkan pahala karena melarang kebiasaan di atas? Berilah kami jawaban secara tertulis”.
(الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده.
اللهم أسألك الهداية للصواب.
Jawaban, “Segala puji hanyalah milik Allah. Semoga Allah senantiasa menyanjung junjungan kita, Muhammad, keluarga, sahabat dan semua orang yang meniti jalan mereka. Aku meminta petunjuk untuk memberikan jawaban yang benar kepada Allah.
نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
Betul, acara kumpul-kumpul di rumah duka dan kegiatan membuat makanan yang dilakukan oleh banyak orang adalah salah satu bentuk bid’ah munkarah. Sehingga penguasa yang melarang kebiasaan tersebut akan mendapatkan pahala karenanya. Semoga Allah meneguhkan kaidah-kaidah agama dan menguatkan Islam dan muslimin dengan sebab beliau.
قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرح المنهاج): ويسن لجيران أهله – أي الميت – تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم،
al-’Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah al Muhtaj li Syarh al Minhaj mengatakan, “Dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan keluarga mayit selama sehari dan semalam
للخبر الصحيح اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.
Dalilnya adalah sebuah hadits yang sahih, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan mereka –dari menyiapkan makanan–”
ويلح عليهم في الاكل ندبا، لانهم قد يتركونه حياء، أو لفرط جزع.
Dianjurkan hukumnya keluarga mayit untuk agak dipaksa agar mau menikmati makanan yang telah disiapkan untuk mereka karena boleh jadi mereka tidak mau makan karena malu atau sangat sedih.
ويحرم تهيئه للنائحات لانه إعانة على معصية،
Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan
وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك،
Kebiasaan sebagian orang berupa keluarga mayit membuat makanan lalu mengundang para tetangga untuk menikmatinya adalah bid’ah makruhah. Demikian pula mendatangi undangan tersebut termasuk bid’ah makruhah.
لما صح عن جرير رضي الله عنه: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة.
Dalilnya adalah sebuah riwayat yang sahih dari Jarir, “Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.
ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.
Alasan logika yang menunjukkan bahwa hal tersebut termasuk niyahah adalah karena perbuatan tersebut menunjukkan perhatian ekstra terhadap hal yang menyedihkan
ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء، بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم، فمن صادفهم عزاهم.اه.
Oeh karena itu, makruh hukumnya keluarga mayit berkumpul supaya orang-orang datang menyampaikan bela sungkawa. Sepatutnya keluarga mayit sibuk dengan keperluan mereka masing-masing lantas siapa saja yang kebetulan bertemu dengan mereka menyampaikan bela sungkawa.” Sekian penjelasan dari penulis Tuhfah al Muhtaj.
وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.اه.
Dalam Hasyiyah al Jamal untuk kitab Syarh al Manhaj disebutkan, “Termasuk bid’ah munkarah dan makruhah adalah perbuatan banyak orang yang mengungkapkan rasa sedih lalu mengumpulkan banyak orang pada hari ke-40 kematian mayit. Bahkan semua itu hukumnya haram jika acara tersebut dibiayai menggunakan harta anak yatim atau mayit meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan hutang atau menimbulkan keburukan dan semisalnya.” Sekian dari Hasyiyah al Jamal.
وقد قال رسول الله (صلى الله عليه و سلم ) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal bin al Harts, “Wahai Bilal, siapa saja yang menghidupkan salah satu sunahku yang telah mati sepeninggalku maka baginya pahala semisal dengan pahala semua orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.
ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا.
Sebaliknya siapa saja yang membuat bid’ah yang sesat yang tidak diridhai oleh Allah dan rasul-Nya maka dia akan menanggung dosa semisal dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”.
وقال (صلى الله عليه و سلم ): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر.وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebaikan itu bagaikan simpanan. Simpanan tersebut memiliki kunci. Sungguh beruntung seorang hamba yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka kebaikan dan penutup kejelekan. Celakalah seorang hamba yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka kejelekan dan kunci penutup kebaikan”.
ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.
Tidaklah diragukan bahwa melarang masyarakat dari bid’ah munkarah di atas berarti menghidupkan sunah dan mematikan bid’ah, membuka berbagai pintu kebaikan dan menutup berbagai pintu keburukan. Banyak orang yang terlalu memaksakan diri untuk melakukan acara di atas sehingga menyebabkan perbuatan tersebut statusnya adalah perbuatan yang haram”.
كتبه المرتجي من ربه الغفران: أحمد بن زيني دحلان – مفتي الشافعية بمكة المحمية – غفر الله له، ولوالديه، ومشايخه، والمسلمين.
Demikianlah fatwa tertulis yang ditulis oleh Ahmad bin Zaini Dahan, mufti Syafi’i di Mekkah. Moga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya, para gurunya dan seluruh kaum muslimin.
(الحمد لله) من ممد الكون أستمد التوفيق والعون.
Segala puji hanyalah milik Allah. Kepada zat yang memberi nikmat untuk seluruh makhluk aku-mufti Hanafi-memohon taufik dan pertolongan-Nya.
نعم، يثاب والي الامر – ضاعف الله له الاجر، وأيده بتأييده – على منعهم عن تلك الامور التي هي من البدع المستقبحة عند الجمهور.
Betul, penguasa tersebut- moga Allah berikan kepadanya pahala yang berlipat ganda dan moga Allah selalu menolongnya- akan mendapatkan pahala dengan melarang masyarakat melakukan acara tersebut yang berstatus sebagai bid’ah yang jelek menurut mayoritas ulama.
قال في (رد المحتار تحت قول الدر المختار) ما نصه: قال في الفتح: ويستحب لجيران أهل الميت، والاقرباء الاباعد، تهيئة طعام لهم يشبعهم يومهم وليلتهم، لقوله (صلى الله عليه و سلم ): اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.حسنه الترمذي، وصححه الحاكم.
Penulis kitab Radd al Muhtar yang merupakan penjelasan untuk kitab al Durr al Mukhtar mengatakan sebagai berikut, “Dalam kitab al Fath disebutkan, dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit dan kerabat jauh mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan mereka selama sehari dan semalam mengingat sabda Nabi, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan mereka-dari menyiapkan makanan-”. Hadits ini dinilai hasan oleh Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al Hakim.
ولانه بر ومعروف،
Menyediakan makanan untuk keluarga mayit adalah kebaikan.
ويلح عليهم في الاكل، لان الحزن يمنعهم من ذلك، فيضعفون حينئذ.
Hendaknya keluarga mayit agak dipaksa untuk menikmati makanan yang disediakan untuk mereka karena kesedihan menghalangi mereka untuk berselera makan sehingga mereka malas untuk makan”.
وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة.
Penulis Radd al Muhtar juga mengatakan, “Makruh hukumnya bagi keluarga mayit untuk menyajikan makanan karena menyajikan makanan itu disyaratkan ketika kondisi berbahagia. Sehingga perbuatan keluarga mayit menyajikan makanan adalah bid’ah.
روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih dari Jari bin Abdillah mengatakan, “Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”. Sekian penjelasan penulis kitab Radd al Muhtar-kitab fikih mazhab Hanafi-.
وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ.
Dalam kitab al Bazzaz disebutkan, “Makruh hukumnya membuat makanan pada hari pertama, ketiga dan ketujuh setelah kematian. Demikian pula, makruh hukumnya membawa makanan ke kuburan di berbagai kesempatan dst”.
وتمامه فيه، فمن شاء فليراجع. والله سبحانه وتعالى أعلم.
Penjelasan detailnya ada di kitab tersebut. Siapa saja yang ingin penjelasan lengkap silahkan membaca sendiri buku tersebut. Wallahu a’lam.
كتبه خادم الشريعة والمنهاج: عبد الرحمن بن عبد الله سراج، الحنفي، مفتي مكة المكرمة – كان الله لهما حامدا مصليا مسلما.
Demikianlah fatwa tertulis yang disampaikan oleh pelayan syariat dan minhaj Islam, Abdurrahman bin Abdillah Siraj al Hanafi, mufti Mekkah seraya memuji Allah, dan mengucapkan salawat dan salam untuk rasul-Nya.
وقد أجاب بنظير هذين الجوابين مفتي السادة المالكية، ومفتي السادة الحنابلة.
Fatwa yang sama juga disampaikan oleh mufti Maliki dan mufti Hanbali”.
Sumber: Hasyiyah I’anah al Thalibin karya Sayid Bakri bin Dimyati al Mishri juz 2 hal 145-146 terbitan al Haramain Singapura.
Catatan:
Bandingkan penjelasan di atas dengan praktek saudara-saudara kita, jamaah NU yang hanya mengenal NU secara kultural bukan secara ajaran sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab NU standar.
Perlu diketahui bahwa Zaini Dahlan adalah ulama syafi’iyyah di zamannya yang sangat benci dan sangat memusuhi apa yang didakwahkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam masalah tauhid. Meski demikian beliau keras dengan masalah tahlilan. Beliau menilai acara tahlilan sebagai bid’ah munkarah alias bid’ah yang harus diberantas atau diingkari. Beliau tidak menilai ritual tahlilan sebagai ajaran Wahabi yang sangat beliau musuhi. Sehingga anggapan bahwa anti tahlilan hanyalah pemahaman Wahabi adalah anggapan yang sangat dipaksakan dan terlalu mengada-ada.
Zaini Dahan ternyata tidak menolerir acara tahlilan dengan alasan sikap arif terhadap budaya lokal. Bahkan beliau menegaskan bahwa memberantasnya adalah amalan yang berpahala. Bandingkan dengan sikap banyak orang NU yang menolak kebenaran dengan alasan sikap arif dengan budaya lokal, meneladani dakwah Sunan Kalijaga padahal model dakwah Sunan Kalijaga sendiri ditentang oleh mayoritas wali songo, Sunan Bonang yang merupakan guru ngaji Sunan Kalijaga, Sunan Giri dll.
Berdasarkan penjelasan mufti Hanafi di atas acara tahlilan adalah bid’ah yang harus diberantas menurut mayoritas ulama.

Hukum Tepuk Tangan


Dalam Hasyiah al Bajairumi asy Syafii disebutkan, “Hukum tepuk tangan adalah makruh” [Hasyiah al Bajairumi 4/434].
وسئل رضي الله عنه عن قول الزركشي إن التصفيق باليد للرجال للهو حرام لما فيه من التشبه بالنساء هل هو مسلم أم لا، وهل الحرمة مقيدة بما إذا قصد التشبه أو يقال ما اختص به النساء يحرم على الرجال فعله، وإن لم يقصد به التشبه بالنساء.
Al Bajairumi ditanya mengenai perkataan az Zarkasyi, “Sesungguhnya tepuk tangan untuk laki-laki jika untuk permainan yang melalaikan hukumnya haram karena perbuatan tersebut dinilai menyerupai perempuan”. Apakah perkataan tersebut bisa diterima atau tidak? Apakah bertepuk tangan itu haram jika dengan maksud menyerupai perempuan ataukah kita katakan bahwa tepuk tangan merupakan ciri khas perempuan sehingga haram dilakukan oleh laki-laki meski tanpa maksud menyerupai perempuan?
فأجاب: هو مسلم حيث كان للهو، وإن لم يقصد به التشبه بالنساء.
Jawaban beliau, “Perkataan tersebut bisa diterima jika tepuk tangan yang dilakukan oleh laki-laki tersebut dengan tujuan permainan meski pelakunya tidak bermaksud untuk menyerupai perempuan”.
وسئل عن التصفيق خارج الصلاة لغير حاجة هل هو حرام أم لا؟
Al Bajairumi juga ditanya mengenai hukum tepuk tangan di luar shalat tanpa ada kebutuhan apakah hukumnya haram ataukah tidak?
فأجاب إن قصد الرجل بذلك التشبه بالنساء حرم، وإلا كره. ا هـ. نهاية المحتاج 2/47.
Jawaban beliau, “Jika laki-laki yang bertepuk tangan tersebut bermaksud untuk menyerupai perempuan hukumnya haram. Jika tidak demikian, hukumnya makruh” [Nihayah al Muhtaj-buku fiqh syafii- 2/47].
قال ابن حجر: يكره التصفيق خارج الصلاة مطلقا، ولو بضرب بطن على بطن، وبقصد اللعب، ومع بعد إحدى اليدين عن الأخرى. وقال شيخنا الرملي: إنه حرام بقصد اللعب، وكتصفيق فيما ذكر ضرب الصبي على بعضه، أو بنحو قضيب أو ضرب خشب على مثله، حيث حصل به الطرب. حاشية قليوبي 1/216.
Ibnu Hajar al Haitami asy Syafii, “Makruh hukumnya bertepuk tangan di luar shalat apa pun bentuknya meski tepuk tangan dengan bentuk bagian dalam telapak tangan dipukulkan ke bagian dalam telapak tangan dengan tujuan sekedar main-main…. Guru kami ar Ramli mengatakan, ‘Tepuk tangan hukumnya haram jika maksudnya adalah main-main semisal tepuk tangan ketika ada anak kecil yang sedang kelahi dengan kawannya. Demikian pula haram hukumnya memukulkan bambu dengan bambu atau kayu dengan kayu karena hal tersebut menimbulkan irama musik” [Hasyiyah al Qolyubi-buku fiqh Syafii- 1/216].
وقد حرم بعض العلماء التصفيق لقوله عليه السلام: ((إنما التصفيق للنساء)) ((ولعن عليه السلام المتشبهات من النساء بالرجال، والمتشبهين من الرجال بالنساء))،
Sebagian ulama mengharamkan tepuk tangan bagi laki-laki mengingat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tepuk tangan itu hanya untuk perempuan’ dan hadits ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan’.
ومن هاب الإله وأدرك شيئا من تعظيمه لم يتصور منه رقص ولا تصفيق، ولا يصدر التصفيق والرقص إلا من غبي جاهل، ولا يصدران من عاقل فاضل، ويدل على جهالة فاعلهما أن الشريعة لم ترد بهما في كتاب ولا سنة، ولم يفعل ذلك أحد الأنبياء ولا معتبر من أتباع الأنبياء،
Siapa yang benar-benar merasa takut kepada Allah dan memiliki sedikit saja rasa pengagungan kepada Allah tidaklah mungkin berjoget atau pun bertepuk tangan. Tidak ada yang berjoget ataupun bertepuk tangan kecuali orang yang dungu dan bodoh. Dua hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh orang yang benar-benar berakal dan mengerti agama. Di antara bukti kebodohan orang tersebut adalah syariat tidak pernah mengajarkan untuk berjoget ataupun bertepuk tangan dalam al Qur’an ataupun hadits dan tidak ada satupun nabi atau pengikut nabi sejati yang melakukannya.
وإنما يفعل ذلك الجهلة السفهاء الذين التبست عليهم الحقائق بالأهواء، وقد قال تعالى: ﴿وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ﴾
Yang melakukan dua hal tersebut hanyalah orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan kebenaran dengan hawa nafsu. Allah berfirman (yang artinya), “Kami turunkan al Qur’an kepadamu sebagai penjelas bagi segala sesuatu”.
وقد مضى السلف وأفاضل الخلف ولم يلابسوا شيئا من ذلك،
Tidak ada satu pun salaf ataupun ulama khalaf yang melakukan satu pun dari hal-hal tersebut.
ومن فعل ذلك أو اعتقد أنه غرض من أغراض نفسه وليس بقربة إلى ربه، فإن كان ممن يقتدى به ويعتقد أنه ما فعل ذلك إلا لكونه قربة فبئس ما صنع لإيهامه أن هذا من الطاعات، وإنما هو من أقبح الرعونات. قواعد الأحكام 2/220-221.
Siapa yang melakukannya hal (joget atau tepuk tangan) atau menyakini bahwa hal tersebut hal sekedar penghibur hati, bukan amal ibadah kepada Allah maka jika pelakunya adalah person yang diteladani oleh banyak orang sehingga apa yang dia lakukan akan diyakini oleh orang lain sebagai ibadah maka sungguh jelek perbuatannya. Perbuatan tersebut menyebabkan banyak orang yang salah faham, mengira hal tersebut adalah amal ketaatan padahal kedua hal tersebut adalah ketololan yang sangat jelek [Qawaid al Ahkam 2/220-221].
قال في التمهيد: وفيه أن التصفيق لا يجوز في الصلاة لمن نابه شيء فيها ولكن يسبح وهذا ما لا خلاف فيه للرجال
Dalam kitab at Tamhid disebutkan, “Hadits ini menunjukkan bahwa bahwa laki-laki tidaklah bertepuk tangan ketika terjadi sesuatu ketika shalat. Laki-laki cukup mengucapkan tasbih. Hal ini adalah hal yang tidak diperselisihkan oleh para ulama.
وأما النساء فإن العلماء اختلفوا في ذلك فذهب مالك وأصحابه إلى أن التسبيح للرجال والنساء جميعا لقوله صلى الله عليه وسلم ((من نابه شيء في صلاته فليسبح)) ولم يخص رجالا من نساء وتأولوا قول النبي صلى الله عليه وسلم ((إنما التصفيق للنساء)) أي إنما التصفيق من فعل النساء قال ذلك على جهة الذم ثم قال من نابه شيء في صلاته فليسبح وهذا على العموم للرجال والنساء هذه حجة من ذهب هذا المذهب.
Sedangkan untuk perempuan, para ulama berselisih pendapat. Imam Malik dan Malikiyyah berpendapat bahwa mengucapkan tasbih itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa saja yang mengalami sesuatu ketika shalat hendaknya mengucapkan tasbih’. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bacaan tasbih untuk laki-laki atau perempuan. Sedangkan hadits ‘Tepuk tangan itu hanya untuk perempuan’ mereka tafsirkan sebagai kalimat celaan bagi perempuan yang melakukannya. Sedangkan dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Siapa saja yang mengalami sesuatu ketika shalat hendaknya mengucapkan tasbih’. Hadits ini bersifat umum, berlaku untuk laki-laki ataupun perempuan. Inilah alasan pendapat ini.
وقال آخرون منهم الشافعي والأوزاعي وعبيد الله بن الحسن والحسن بن حي وجماعة من نابه من الرجال شيء في صلاته سبح ومن نابها من النساء شيء في صلاتها صفقت إن شاءت
Para ulama yang lain semisal Imam Syafii, al Auzai, Ubaidillah bin al Hasan, al Hasan bin Hayy dan sejumlah ulama yang lain mengatakan bahwa laki-laki yang mengalami sesuatu dalam shalatnya hendaknya mengucapkan tasbih. Sedangkan perempuan yang mengalami sesuatu dalam shalatnya hendaknya dia bertepuk jika dia mau.
لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد فرق بين حكم النساء والرجال في ذلك فقال التصفيق للنساء ومن نابه شيء في صلاته يعني منكم أيها الرجال فليسبح واحتج بحديث أبي هريرة التسبيح للرجال والتصفيق للنساء ففرق بين حكم الرجال والنساء وكذلك رواه جماعة في حديث سهل بن سعد هذا قال الأوزاعي: إذا نادته أمه وهو في الصلاة سبح فإن التسبيح للرجال والتصفيق للنساء سنة. التمهيد لابن عبد البر 21/106.
Alasannya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara laki-laki dengan perempuan dalam masalah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tepuk tangan itu untuk perempuan”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Siapa saja yang mengalami sesuatu dalam shalatnya-yaitu di antara kalian wahai para laki-laki-hendaknya mengucapkan tasbih”. Alasan lain adalah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacaan tasbih itu untuk laki-laki. Sedangkan tepuk tangan itu untuk perempuan”. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan ketentuan untuk laki-laki dengan ketentuan untuk perempuan. Demikian pula yang diriwayatkan oleh tujuh kitab hadits dari sahabat Sahl bin Saad. Al Auzai mengatakan, “Jika seorang laki-laki yang sedang shalat wajib dipanggil oleh ibunya, hendaknya dia mengucapkan tasbih karena tasbih untuk laki-laki sedangkan tepuk tangan untuk perempuan, itulah yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” [at Tamhid karya Ibnu Abdil Barr al Maliki 21/106].
قال في طرح التثريب: (( ( الحادية عشرة ) أخذ منه بعضهم أنه لا يجوز للرجل التصفيق باليدين مطلقا لا في الصلاة ولا في غيرها لكونه جعل التصفيق للنساء لكنه محمول على حالة الصلاة بدليل تقييده بذلك في رواية المصنف ومسلم وغيرهما كما تقدم.
Dalam Tharh al Tatsrib disebutkan, “Sebagian ulama menyimpulkan dari hadits ini bahwa laki-laki itu tidak boleh bertepuk tangan dalam kondisi apapun baik ketika shalat ataupun di luar shalat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa tepuk tangan itu untuk perempuan. Namun yang benar, yang dimaksudkan oleh hadits adalah tepuk tangan ketika shalat sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.
ومقتضى قاعدة من يأخذ بالمطلق وهم الحنابلة والظاهرية عدم جوازه مطلقا ومتى كان في تصفيق الرجل تشبه بالنساء فيدخل في الأحاديث الواردة في ذم المتشبهين من الرجال بالنساء ولكن ذلك إنما يأتي في ضرب بطن إحدى اليدين على بطن الأخرى ولا يأتي في مطلق التصفيق)). طرح التثريب 2/250
Konsekuensi dari kaedah yang hanya melihat dalil mutlak dalam masalah seperti ini semisal kaedah yang dianut oleh Hanabilah dan Zhahiriah adalah tidak bolehnya tepuk tangan bagi laki-laki secara mutlak dalam kondisi apapun. Jika tepuk tangan yang dilakukan oleh seorang laki-laki itu mengandung unsur menyerupai perempuan maka laki-laki yang bertepuk tangan itu termasuk dalam hadits-hadits yang melarang laki-laki yang menyerupai perempuan. Namun tepuk tangan yang terlarang bagi laki-laki hanya tepuk tangan dengan bentuk memukulkan bagian dalam telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan, tidak semua bentuk menepukkan tangan. [Tharh al Tatsrib 2/250].
قال الحافظ شمس الدين بن القيم رحمه الله قوله في الحديث: وليصفق النساء دليل على أن قوله في حديث سهل بن سعد المتفق عليه التصفيق للنساء أنه إذن وإباحة لهن في التصفيق في الصلاة عند نائبة تنوب لا أنه عيب وذم.
Ibnul Qayyim mengomentari hadits ‘Hendaknya perempuan bertepuk tangan’ dengan mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam hadits dari Sahl bin Saad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan redaksi ‘Tepuk tangan itu hanya untuk perempuan’ maksudnya adalah memberi izin dan membolehkan perempuan untuk bertepuk tangan dalam shalat ketika terjadi sesuatu, bukan bermakna celaan.
قال الشافعي حكم النساء التصفيق وكذا قاله أحمد.
Imam Syafii dan Ahmad berpendapat bahwa perempuan itu bertepuk tangan.
وذهب مالك إلى أن المرأة لا تصفق وأنها تسبح واحتج له الباجي وغيره بقوله صلى الله عليه وسلم من نابه شيء في صلاته فليسبح. قالوا وهذا عام في الرجال.
Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa perempuan itu tidak bertepuk tangan namun dengan mengucapkan tasbih. Al Baji dan lainnya memberikan dalil untuk pendapat Imam Malik dengan hadits, ‘Siapa saja yang mengalami sesuatu dalam shalatnya hendaknya mengucapkan tasbih’. Mereka mengatakan bahwa hadits ini bersifat umum, untuk laki-laki dan perempuan.
قالوا: وقوله التصفيق للنساء هو على طريق الذم والعيب لهن كما يقال كفران العشير من فعل النساء وهذا باطل من ثلاثة أوجه:
Mereka mengatakan bahwa hadits, ‘Tepuk tangan itu untuk perempuan’ adalah kalimat celaan bagi para perempuan sebagaimana kalimat ‘tidak terima kasih dengan suami adalah perbuatan perempuan’. Ini adalah perkataan yang tidak benar karena tiga alasan.
أحدها: أن في نفس الحديث تقسيم التنبيه بين الرجال والنساء وإنما ساقه في معرض التقسيم وبيان اختصاص كل نوع بما يصلح له فالمرأة لما كان صوتها عورة منعت من التسبيح وجعل لها التصفيق والرجل لما خالفها في ذلك شرع له التسبيح.
Pertama, dalam hadits tersebut terdapat rincian mengenai cara makmum laki-laki dan perempuan mengingatkan imam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan hadits tersebut dalam rangka memberikan rincian yang menjelaskan cara khusus untuk mengingatkan imam bagi laki-laki dan perempuan dengan cara yang sesuatu dengan perbedaan laki-laki dengan perempuan. Mengingat suara wanita adalah aurat, wanita dilarang mengucapkan tasbih, sebagai gantinya wanita bertepuk tangan. Mengingat pertimbangan ini tidak ada pada laki-laki maka laki-laki dituntunkan untuk mengucapkan tasbih.
الثاني: أن في الصحيحين من حديث أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم التسبيح للرجال والتصفيق للنساء فهذا التقسيم والتنويع صريح في أن حكم كل نوع ما خصه به وخرجه مسلم بهذا اللفظ وقال في آخره في الصلاة
Kedua, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacaan tasbih itu untuk laki-laki sedangkan tepuk tangan itu untuk perempuan”. Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memberikan rincian tentang cara mengingatkan imam bagi masing-masing dari laki dan perempuan. Muslim juga meriwayatkan dengan redaksi di atas dengan tambahan keterangan pada bagian akhir hadits ‘dalam shalat’.
الثالث: أنه أمر به في قوله وليصفق النساء ولو كان قوله التصفيق للنساء على جهة الذم والعيب لم يأذن فيه، والله أعلم )).  تهذيب السنن6/155.
Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan perempuan untuk bertepuk dalam sabdanya ‘Hendaknya perempuan bertepuk’. Seandainya makna hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Tepuk tangan itu untuk perempuan’ adalah celaan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengizinkan perempuan untuk melakukan tepuk tangan” [Tahdzib as Sunan 6/155].
قال في إغاثة اللهفان: ((والمقصود أن المصفقين و الصفارين في يراع أو مزمار ونحوه فيهم شبه من هؤلاء ولو أنه مجرد الشبه الظاهر فلهم قسط من الذم بحسب تشبههم بهم، وإن لم يتشبهوا بهم في جميع مكائهم و تصديتهم.
Dalam Ighatsah al Lahafan, Ibnul Qayyim mengatakan, “Intinya, orang-orang yang bertepuk tangan dan bersiul mengiringi klarinet atau seruling atau alat musik yang lain ada pada diri mereka keserupaan dengan orang-orang kafir meski hanya sekedar keserupaan secara lahiriah. Untuk mereka celaan berbanding lurus dengan besaran keserupaan mereka dengan orang-orang kafir dalam masalah ini meski mereka tidak menyerupai orang kafir dalam semua hal terkait tepuk tangan dan siulan orang kafir.
والله سبحانه لم يشرع التصفيق للرجال وقت الحاجة إليه في الصلاة إذا نابهم أمر بل أمروا بالعدول عنه إلى التسبيح لئلا يتشبهوا بالنساء فكيف إذا فعلوه لا لحاجة وقرنوا به أنواعا من المعاصي قولا وفعلا)).   إغاثة اللهفان 1/245.
Allah tidak mengizinkan laki-laki untuk bertepuk tangan pada saat ada kebutuhan untuk melakukannya ketika shalat yaitu ketika ada sesuatu yang terjadi di tengah-tengah shalat. Bahkan laki-laki diperintahkan untuk meninggalkan tepuk tangan dan diganti dengan ucapan tasbih agar tidak serupa dengan perempuan. Lantas bagaimana hukumnya jika laki-laki melakukan tepuk tangan padahal tidak ada kebutuhan padahal tepuk tangan ini dicampur dengan berbagai bentuk kemaksiatan lisan ataupun anggota badan” [Ighatsah Lahafan 1/245].
Demikian tulisan Syaikh Khalid al Mushlih sebagaimana dalam: http://www.almosleh.com/almosleh/article_108.shtml
dalam kesempatan yang lain Syaikh Khalid al Mushlih mengatakan,
التصفيق جائز عند التشجيع وشبهه، والأحسن تركه، فقد كرهه جماعة من أهل العلم، وقال آخرون بتحريمه.
“Tepuk tangan dengan tujuan memberi semangat atau semisalnya hukumnyadiperbolehkan meski sebaiknya ditinggalkan mengingat sejumlah ulama menilainya sebagai suatu hal yang makruh bahkan sebagian yang lain mengharamkannya”.
Sumber: http://www.almosleh.com/almosleh/article_1255.shtml

Tulisan Al-Qur'an sebagai Hiasan Dinding


السؤال 219: ما حكم تعليق الملصقات والبراويز التي تتضمن آيات قرآنية؟
Pertanyaan, “Apa hukum menempelkan stiker yang memuat ayat al Qur’an?
الجواب:  كثير من الناس يهجر القرآن وللهجر أشكال وضروب فمن لم يقرأ القرآن هجره بعينه ومن لم يسمعه هجره بأذنه، ومن قرأه أو سمعه ولم يتدبره، فقد هجره بقلبه، ومن سمعه وقرأه وتدبره ولم يعمل به، فقد هجره بأركانه.
Jawaban Syaikh Masyhur al Salman,
“Ada banyak orang yang meninggalkan al Qur’an. Meninggalkan al Qur’an itu memiliki beberapa bentuk. Orang yang tidak pernah membaca al Qur’an adalah orang yang meninggalkan al Qur’an dengan penglihatannya. Orang yang tidak pernah mendengarkan al Qur’an adalah orang yang meninggalkan al Qur’an dengan pendengarannya. Orang yang sudah terbiasa mendengar ataupun membaca al Qur’an namun tidak merenungkan isi kandungannya adalah orang yang telah meninggalkan al Qur’an dengan hatinya. Sedangkan orang yang terbiasa mendengar dan membaca al Qur’an serta merenungi kandungannya namun tidak menerapkannya adalah orang yang meninggalkan al Qur’an dengan anggota badannya.
وإذا رأيتم الإنسان اعتنى بالظاهر عناية زائدة، فإن في هذا دلالة ظاهرة على خراب الباطن،
Jika Anda jumpai seorang yang sangat perhatian dengan sisi lahiriah maka ini adalah tanda yang jelas akan kosongnya hatinya.
فكثير من الناس القرآن عنده يعلقه في السيارة يظن أن هذا المصحف يحميه، وهو لا يقرأه ولا يعمل به،
Banyak orang yang menjadikan mushaf al Qur’an sebagai gantungan di mobil dengan keyakinan bahwa mushaf tersebut akan melindungi perjalanannya. Pemilik mobil itu sendiri tidak membaca dan mengamalkan al Qur’an yang dia gantungkan.
وكثير من الناس يهجر القرآن، ويجعل القرآن زينة في بيته يزين به جدران البيت،
Banyak orang yang meninggalkan al Qur’an dengan menjadikan al Qur’an sebagai hiasan di rumahnya tepatnya hiasan dinding rumahnya.
والقرآن أنزل لنزين به جدران قلوبنا، ولكي تظهر ثمرته وبركته على جوارحنا،
Al Qur’an itu diturunkan untuk menghiasi dinding hati kita agar buahnya nampak pada anggota badan kita.
وما أنزل الله القرآن ليتخذ مناظر على الجدران فهذا نوع من الإهانة للقرآن الكريم،
Allah tidaklah menurunkan al Qur’an untuk kita jadikan pemandangan di tembok. Tindakan ini adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap al Qur’an.
ورضي الله عن أبي الدرداء فإنه كان يقول: (إذا حليتم مصاحيفكم وزخرفتم مساجيدكم فالدمار عليكم) ومعنى المساجد أن تزخرف يعني أنها تعطلت مهمتها ،
Moga Allah melimpahkan ridho-Nya untuk Abu Darda’. Beliau pernah mengatakan, “Jika kalian hiasi mushaf kalian dan kalian perindah masjid kalian maka itulah kehancuran kalian”. Yang dimaksud memperindah masjid adalah mengosongkan masjid dari fungsi pokoknya.
فمن وصايا السلف أن الإنسان المهموم يدخل المسجد لأنه لما يدخل المسجد ليجد بيتاً متواضعاً فيقول: لماذا أنا مهموم وهذه الدنيا ماذا تساوي إن كان بيت الله هكذا؟ فهذا يزيل عنه الغم،
Di antara wasiat salaf adalah agar orang yang sedang bersedih masuk ke dalam masjid. Hal ini dengan pertimbangan, jika dia masuk masjid lalu dia jumpai masjid berupa bangunan yang sangat sederhana maka dia akan berkata di dalam hati, ‘Mengapa aku sedih memikirkan dunia. Dunia ini tidak ada nilainya jika rumah Allah saja bentuk semisal ini?’. Masuk masjid bisa menghilangkan kegundahan hati.
أما اليوم فزخرفة المساجد أصبح فيها مضاهاة للنصارى، والنبي صلى الله عليه وسلم أخبرنا أننا سنحمرها ونصفرها ونزخرفها، وهذا شرط من أشراط الساعة.
Sedangkan saat ini, masjid diperindah serupa dengan nasrani yang mempercantik gerejanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa kita akan mengecat masjid dengan warna merah atau kuning dan kita akan memperindah masjid padahal ini adalah salah satu tanda Kiamat.
فالأصل في المصاحف ألا تزين ، والأصل في البيوت أن تبقى على ما هي عليه، وما أنزل الله القرآن لتزيين الجدران بالآيات ،
Pada dasarnya mushaf itu tidak perlu dipercantik dan pada dasarnya tembok rumah itu dibiarkan sebagaimana kondisinya semula. Allah tidak menurunkan al Qur’an sebagai hiasan tembok rumah.
فاعتن بالقرآن العناية الشرعية واقبل عليه واقرأه قراءة صحيحة، بأحكام التلاوة، والتدبر، ثم إياك أن تهجر جوارحك القرآن وأحكامه فاعمل به، هذا هو المطلوب..
Berikan perhatian terhadap al Qur’an dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat. Berikan perhatian terhadap al Qur’an dengan membaca secara benar dengan mengikuti aturan-aturan membaca al Qur’an dan merenungkan isi kandungannya. Jangan sampai anggota badanmu meninggalkan al Qur’an dan hokum-hukum yang terkandung di dalamnya. Amalkanlah isi al Qur’an. Inilah yang seharusnya kita lakukan”.
Sumber:
http://almenhaj.net/makal.php?linkid=575
 
Copyright 2009 Ruang Belajar Ummu Naufal - Widuri. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Download Royalty free images without registering at Pixmac.com